Make your own free website on Tripod.com
SUARA PEMBARUAN DAILY

Godot Sudah Datang

Pembaruan/Sunyoto/Luther Ulag

MENJADI PERHATIAN - Sejumlah wanita yang membawa bunga bergabung dengan mahasiswa di gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, menyuarakan reformasi (kiri) Selasa (19/5) siang. Seorang mahasiswa dengan dilumuri cat mengekspresikan gaya ''reformasi pantomim'' yang mengundang perhatian mahasiswa, juga di gedung DPR/MPR, Selasa siang.

JAKARTA - Suasana di Gedung "Rakyat" DPR/MPR yang diduduki mahasiswa sejak Senin (18/5) pagi, sepanjang Selasa pukul 18.00 hingga Rabu pagi pukul 06.00 WIB sungguh menegangkan. Takut, panik dan doa-doa mengalir deras dari mulut mahasiswa secara nyaring silih berganti agar tidak tertumpah darah terlalu banyak.

Pukul 18.00 WIB Sholat bersama kemudian diiringi nyanyi bersama oleh ribuan mahasiswa yang berkumpul di sekitar dua tiang bendera yang berada tepat di depan gedung utama. Satu tiang dipasang bendera merah putih setengah tiang, sedang tiang yang lain berisi bendera setengah tiang warna dasar putih dengan tulisan warna hitam Save Our Campus.

Pukul 18.30 WIB para mahasiswa khususnya yang berada di gerbang depan dan belakang diberitahukan agar merapatkan barisan dan tidak terpancing provokasi oleh kelompok-kelompok yang tidak dikenal.

Bersamaan dengan itu diumumkan agar mahasiswa yang menjaga kedua pintu gerbang agar bisa mendeteksi jika ada anggota DPR yang meninggalkan kompleks gedung rakyat tersebut.

Dengan sopan para mahasiswa di antaranya yang berjaket kuning dari Universitas Indonesia menanyakan setiap orang yang akan keluar kompleks. Sementara dua petugas CPM lengkap bersenjata mengamati tindakan para mahasiswa tersebut dari jarak 7 meter.

Pukul 19.30 WIB pengumuman agar koordinator lapangan setiap perguruan tinggi untuk antre makanan di posko. Koordinator Posko makanan adalah Dr Karlina Leksono dari Suara Ibu Peduli.

Setengah jam kemudian seluruh koordinator lapangan berkumpul untuk rapat koordinasi menyepakati kegiatan hari Rabu.

''Rekan-rekan mahasiswa, kami umumkan, makanan tidak akan kekurangan, persediaan cukup,'' begitu penegasan yang disampaikan lewat pengeras suara untuk meyakinkan bahwa tidak perlu khawatir soal persediaan makanan. Penegasan tersebut ternyata benar. Karena setiap mahasiswa mendapat bagian makan malam.

Pukul 20.45 WIB digelar mimbar bebas. Para mahasiswa bergantian naik di panggung. Antara lain, seorang perwakilan mahasiswa dari Malang mengungkapkan bagaimana para mahasiswa di kota tersebut menduduki RRI Malang.

Pukul 23.00 WIB seorang mahasiswa menirukan suara Kiai Zainuddin MZ dengan persis yang menyerukan agar diperjuangkan reformasi total dengan mengganti Presiden.

Semenjak pukul 01.00 WIB Rabu (20/5), provokasi, agitasi serta rangkaian isu penyerbuan yang akan dilakukan oleh aparat dan aktivis Pemuda Pancasila dan FKPPI yang berbeda aspirasi dengan mahasiswa, membuat sekitar 10.000 mahasiswa dan aktivis pro demokrasi yang mengingap di DPR dan tergabung dalam dalam satu komando Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta sangat waspada.

Pukul 02.30 WIB, ribuan mahasiswa yang tertidur di dalam gedung dan luar gedung terjaga oleh teriakan penyerbuan. Ribuan mahasiswa yang berada di luar gedung dan membuat barisan benteng manusia di lapangan parkir tampak cemas akan kondisi mereka. Lagu-lagu pemberi semangat dikumandangkan mahasiswa dengan penuh gairah agar rasa takut bisa dihindari.

30 menit kemudian, sejumlah tim negosiator mahasiswa memberikan informasi melegakan bahwa aparat yang keamanan yang berada di pintu belakang di bawah komando pasukan Marinir dan di depan gedung berada di bawah pasukan Kostrad.

Berita gembira sementara ini berisi, bahwa komandan keamanan telah memberikan jaminan bahwa mahasiswa akan dilindungi dari kekerasan yang dilakukan oleh lawan mereka dari gerakan antireformasi.

Lewat alat informasi handy talky, mahasiswa mendapat informasi dari rekannya yang lain bahwa sejumlah aktivis Pemuda Pancasila sekitar 5.000 orang telah berkumpul di Jakarta Selatan dengan alternatif masuk ke dalam gedung dan membuat kerusuhan, atau sengaja ditempatkan diluar guna menghalau gerakan mahasiswa dari Forum Kota yang akan long march ke gedung DPR.

Satgas mahasiswa yang berada di gerbang belakang dan gerbang depan membuat pagar betis dan menolak keluar masuk mahasiswa. Seluruh mahasiswa yang berada di dalam gedung diminta untuk tidak

keluar dan bertahan.

Pukul 04.00 WIB massa mahasiswa yang berkumpul dibubarkan dan diminta kembali ke poskonya masing-masing dengan komondo siaga satu. Bagi yang ingin istirahat jangan didalam gedung dan tersembunyi dari jangkauan, karena aksi mereka masih panjang.

Pukul 04.40 WIB azan subuh terdengar, mahasiswa diminta melakukan sholat subuh berjamaah dan berdoa dengan penuh kerendahan hati agar perjuangan yang mereka lakukan membuahkan hasil maksimal, serta tidak terjadi lagi korban jiwa mahasiswa.

Pukul 05.15 WIB mahasiswa yang berasal dari Bogor sebanyak 2 bus berhasil masuk dan diterima dengan sorak-sorai oleh para mahasiswa.

Tampak, toilet yang berada di dalam gedung dibanjiri oleh mahasiswa untuk membersihkan badan. Dengan tertib ratusan mahasiswa tampak antre untuk buang hajat dan mandi.

Dari pengeras suara yang keluar dari corong car call, Posko Komunikasi melaporkan bahwa terdapat sekitar 7.000 mahasiswa yang berasal dari Bandung dan Bogor tertahan di kawasan Puncak dan kampus IPB Baranangsiang.

Sedangkan mahasiswa yang berasal dari Cirebon, Karawang serta Jawa Tengah tertahan di Cikampek dan Bekasi.

Pukul 05.30 WIB sejumlah mahasiswi secara simpatik memberikan sarapan pagi serta minuman kepada aparat keamanan yang tengah berjaga-jaga. Keakraban tampak terlihat karena sejumlah mahasiswi UI dan ASMI berusaha menggoda aparat yang masih tertidur.

Pukul 06.00 WIB mahasiswa kembali berkumpul di dalam barisan masing-masing. Tampak keletihan dan rasa kantuk menghantui sejumlah mahasiswa.

Di luar gedung, berdasarkan pemantuan, seluruh jalan menuju kearah Monumen Nasional diblokade oleh aparat. Panser, meriam dan pagar kawat berduri mengelilingi arena itu.

Di jalan Bundaran Semanggi, seluruh jalan dikuasai panser dan pagar kawat berduri. Juga di jalan menuju Jl Rasuna Said ke arah Menteng, diblokade aparat dan panser, di perempatan Pancoran juga kondisi jalan sudah dikuasai aparat.

Godot Sudah Datang

Naskah drama Menunggu Godot (karya Samuel Becket), untuk konsumsi Indonesia sudah saatnya diadaptasi. Kita tidak lagi menunggu seorang Godot, sebab ia sudah datang. Godot sudah tiba di sini, di Gedung DPR/MPR Jakarta, berdiri tegak, tangan kanan mememang kebenaran, tangan kiri memegang reformasi.

Kata-kata itu tertulis dalam secarik kertas, ditempel di dinding Gedung DPR/MPR, Selasa (19/5) malam, di tengah hiruk-pikuk kebulatan tekad mahasiswa menginap di DPR. Di bawah kertas yang agaknya ditulis seorang seniman itu, tiga mahasiswa yang berpakaian hitam-hitam, duduk santai sembari main kartu. Dua lagi tidur-tiduran.

Di luar, ketika jam menunjukkan pukul 23.30 WIB, ribuan mahasiswa duduk tertib mendengarkan ''ceramah'' teman-temannya sesama mahasiswa. Seorang mahasiswa, berpidato dengan menirukan gaya bicara seorang mubaligh kondang. Tepatnya, barangkali, bukan menirukan, tetapi berhasil mengembangkan gaya mubaligh na sional itu menjadi gaya sendiri.

Supaya suara bisa didengar di seantero Gedung DPR, mereka tidak kehilangan akal. Pengeras suara yang biasanya digunakan sebagai car call para anggota dewan yang terhormat, dimanfaatkan mahasiswa secara kreatif. Jadilah suara para orator bisa didengar di seantero luar gedung, termasuk ribuan mahasiswa yang hingga Selasa malam pun masih mengambil posisi di atas gedung.

Di sebuah pojok, rapat koordinasi dilaksanakan. Meski wajah mereka tampak kelelahan, tetap tidak kehilangan semangat, dengan tegas mengemukakan pendapat ihwal koordinasi. Pastilah mereka berasal dari puluhan perguruan tinggi, sebagaimana terlihat dari jaket almamater yang mereka kenakan.

Rapat berlangsung di tengah lalu-lalang mahasiswa. Mahasiswi-mahasiswi cantik berlalu, dengan gaya pakaian yang ngepop seperti yang lazim dilihat di mal-mal. Ada yang berjalan sembari mengoleskan pewarna bibir, tangan kiri memegang cermin kecil. Ada pula yang berjalan dengan mesra dengan pasangannya, mungkin pacarnya.

Semua gedung di Kompleks DPR, tak ada yang steril dari kerumunan mahasiswa. Mereka bergerombol menurut almamater. Ada yang duduk melingkar, menyanyikan lagu-lagu gembira. Karena pemandangan seperti baru pertama kali terjadi di Indonesia, hanya sebuah kata yang mampu melukiskan suasana Selasa malam di Gedung DPR: Dahsyat!

Hore, Dibolehin Mama

''Hallo Ma, Vien nggak pulang malam ini, boleh nggak Ma, mau tidur bareng teman-teman di sini,'' ucap seorang mahasiswa berjaket almamater warna kuning di telepon umum di salah satu sudut lantai dasar gedung baru DPR/MPR, Selasa (19/5) malam.

Entah apa jawaban dari Sang Mama di seberang sana, yang pasti sesaat kemudian mahasiswi cantik ini terlihat gembira. Sambil tersenyum manis, ia berlari menghampiri sekelompok mahasiswa temannya yang menanti tak jauh dari telepon umum. ''Hore.... gue dibolehin mama nginap di DPR ini,'' teriaknya gembira sembari berjingkrak-jingkrak.

Vien mungkin hanyalah satu dari sekian ''anak mama'' yang bergabung dengan puluhan ribu mahasiswa lainnya dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air yang memutuskan menginap di Gedung DPR/MPR, Selasa malam. Dengan fasilitas seadanya, mereka merebahkan badan, tidur di sudut-sudut gedung milik rakyat itu.

Gadis cantik dengan panggilan Vien itu adalah wakil era modern Indonesia, wakil anak muda peduli, yang akhirnya mengikuti kata hatinya untuk ikut serta dalam aksi mahasiswa. Tentu saja, ribuan atau mungkin jutaan anak muda yang sudah memegang prinsip seperti Vien.

Dan, orangtua Vien, yang membolehkan anak gadisnya menginap di DPR, mungkin adalah sosok orangtua yang mau tidak mau mengikuti perkembangan situasi: tidak bisa mengingkari hati nuraninya sendiri. Bahwa, memang, orang harus berjuang, situasi yang lebih baik harus diperjuangkan.

Nikmatkah mereka menginap di DPR sana? Kalau ukurannya adalah fasilitas yang bisa mereka nikmati setiap hari, kamar tidur ber-AC dan adem, tentu tidak. Di DPR, mereka hanya menggunakan koran bekas, tikar, jaket almamater, kursi dan beberapa perlengkapan darurat lainnya dijadikan alas tidur. Bahkan tidak sedikit yang tidur beralaskan lantai yang dingin.

Tapi mereka seolah tidak peduli dengan berbagai ketidaknyamanan yang mungkin tidak pernah dirasakan seumur hidup, khususnya bagi para ''anak mama''seperti Vien atau ribuan mahasiswa-mahasiswi yang menenteng telepon genggam untuk menghubungi kawan-kawan mereka.

''Kami telah bertekad untuk tetap tinggal di sini sampai ada Sidang Istimewa MPR untuk mengganti presiden,'' ujar Rahadian, aktivis mahasiswa dari UPN Veteran, Jakarta yang dibenarkan sejumlah rekannya.

Rahadian yang mengaku sudah menginap di Gedung DPR/MPR sejak Senin malam, juga mengungkapkan, jumlah mahasiswa yang menginap akan bertambah banyak dari hari ke hari. Apalagi, semua perwakilan mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi yang terlibat dalam aksi di DPR telah sepakat bulat untuk tidak mengendorkan perjungan. Semua bentuk ancaman dan risiko akan mereka hadapi dengan tegar.

''Saat ini saja kami dari UPN Veteran ada sekitar 300 orang, dan besok sekitar 500 mahasiswa lagi yang akan datang bergabung,'' ujarnya memberi gambaran. Rombongan Universitas Indonesia (UI) sendiri, datang dengan 35 bus. Mahasiswa UI juga didukung perbekalan (logistik) yang kuat, puluhan ribu nasi bungkus datang teratur.

Menjadi Peduli

Segalanya memang terjadi demikian cepat. Hingga tiga bulan silam, sama sekali belum terbayangkan bahwa mahasiswa akan berjuang mempertahankan keyakinannya. Penilaian kepada mahasiswa pun tak berbeda dengan penilaian kepada anak muda umumnya, yakni generasi yang terbelenggu oleh budaya massal, budaya pop.

Hingga beberapa tahun terakhir ini, mahasiswa-mahasiswa kritis seakan menjadi pihak yang kalah dalam gemuruh kegiatan mahasiswa. Mahasiswa yang gemar mempertanyakan situasi sosial selalu menjadi pihak minoritas. Pihak mayoritas adalah mahasiswa yang melakoni masa studi mereka dengan persepsi sendiri-sendiri. Tetapi dalam dua bulan terakhir, semuanya menjadi terbalik, mayoritas mahasiswa menjadi kelompok yang peduli.

Memang, setiap zaman selalu melahirkan anaknya sendiri. Sepuluh tahun silam, sebuah syair yang ditulis mahasiswa FH-UGM, masih dianggap sebagai impian, identik dengan pernyataan kerinduan terhadap kejujuran dan kebenaran. Kira-kira begini bunyi syair yang memang hanya beberapa baris itu: Bu, belikan aku keberanian, di supermarket atau di pasar loak. Besok, aku mau demonstrasi.

Demonstrasi? Dulu, kegiatan seperti itu adalah barang mewah bagi mahasiswa. Dalam sekian unjuk rasa, yang mengambil peran hanya sebagian kecil dari mahasiswa. Bahkan, banyak unjuk rasa yang dilakukan orang yang itu-itu saja. Para pengunjuk rasa bagaikan kelompok yang kesepian. Kini, suasana terbalik, yang tak mau ikut unjuk rasa justru menjadi kelompok yang kesepian.

Dulu, banyak orang yang menjadi skeptis terhadap ''kekuatan kebenaran.'' Banyak orang yang tiada henti bertanya, mengapa kebenaran tak bisa ditegakkan, mengapa kekuasan bisa demikian kejam membatasi hak-hak sosial rakyat, dalam jangka waktu yang demikian lama. Banyak orang menjadi skeptis, s

ebab, jika keberanan bukan menjadi pemenang, apa bedanya kebenaran dengan kezaliman? Kini, suasana sudah terbalik, aroma kebenaran menyengat ke dalam mayoritas hati nurani manusia di negeri ini.

Dulu, banyak ilmuwan yang mempertahankan kesombongan akademis, mengingkari kesadaran akademis untuk membuat pembenaran terhadap kebijakan penguasa. Sekian lama, situasi demikian terus berlangsung. Memang banyak yang mencoba memberontak (dalam artian melawan keterbatasan), tapi belum juga berhasil. Kini, kalangan akademis berani berjujur diri. Menurut istilah Rektor UI, kalangan akademis unjuk akal. Mahasiswa unjuk rasa, dosen mereka unjuk akal.

Maka tepatlah keyakinan mahasiswa bahwa Godot sudah datang, seperti yang ditulis dalam secarik kertas di Gedung DPR sana. Kalaulah kali ini Godot diasumsikan sebagai juru selamat, berarti ia sudah datang. Godot sudah datang sebagai hati nurani mahasiswa, hati yang memberi keyakinan kepada mereka bahwa kebenaran dan kebebasan memang harus diperjuangkan.

Dulu, perdebatan para budayawan tentang counter culture (budaya tandingan) di kalangan anak-anak muda, barulah menyangkut kegemaran mereka menciptakan bahasa sendiri, yang kita kenal sebagai bahasa prokem. Kini, para budayawan mungkin perlu memperluas perdebatan, karena mereka kini juga sudah memperluas budaya tandingan ke tingkat ''keberpihakan'' sosial.

Ke manakah arah gerakan perjuangan mahasiswa selanjutnya? Hanya mereka yang tahu. Tak ada satu pihak pun yang bisa mengendalikan pikiran mereka, kecuali mereka sendiri. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya, yang ''mendalangi'' aksi-aksi mereka selama ini adalah hati nurani mereka sendiri.

Kalau selama ini ada tuduhan bahwa pihak tertentu telah mendalangi mahasiswa, ucapan demikian hanya cermin kekerdilan berpikir. Dan kini, angin reformasi sudah berhembus, mengikis kekerdilan. Angin reformasi meniupkan semangat kebenaran, mengukuhkan keyakinan bahwa yang menindas rakyat akan kalah.

(ALD/S-24/A-14/E-5/M-12/NN/ MH/M-10)


Last modified: 5/20/98